Program Studi S1 Geofisika UNESA Perkuat Kemandirian Pembudidaya melalui Program MAPAN di Desa Kalanganyar
SIDOARJO—Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Program Studi S1 Geofisika, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), melaksanakan kegiatan penerapan teknologi tepat guna melalui program bertajuk "MAPAN: Mesin Pakan Ikan Tepat Guna Sebagai Penguatan Kapasitas Pendukung dan Produksi Perikanan Budidaya Masyarakat Pesisir di Desa Kalanganyar, Sidoarjo." Program yang merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat Reguler dengan Skema Pemberdayaan Masyarakat Pemula (PMP) ini diselenggarakan di kawasan Tambak Alas (Timur Latar Ombo), Desa Kalanganyar, Kecamatan Sedati, Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan tersebut menjadi bentuk nyata implementasi tridharma perguruan tinggi melalui penerapan inovasi teknologi yang dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat pesisir, khususnya dalam meningkatkan kapasitas produksi pakan ikan secara mandiri serta memperkuat keberlanjutan sektor perikanan budidaya di wilayah tersebut.
Sebagai wilayah pesisir yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai pembudidaya ikan bandeng dan udang, Desa Kalanganyar memiliki potensi perikanan budidaya yang tinggi. Namun demikian, hasil identifikasi tim pengabdian menunjukkan bahwa salah satu kendala utama yang dihadapi masyarakat adalah belum tersedianya mesin pembuat pelet ikan sebagai sarana produksi pakan mandiri. Selama ini para pembudidaya masih bergantung pada pakan komersial, sementara biaya pakan mencapai lebih dari separuh total biaya operasional budidaya. Kondisi tersebut berdampak pada tingginya biaya produksi dan terbatasnya keuntungan yang diperoleh masyarakat.
Gambar 2. Mayoritas Mata Pencaharian Masyarakat Desa Kalanganyar
Menjawab permasalahan tersebut, Tim Pengabdian Program Studi S1 Geofisika UNESA menghadirkan inovasi MAPAN (Mesin Pakan Ikan) sebagai teknologi tepat guna yang dirancang untuk membantu masyarakat memproduksi pakan ikan secara mandiri menggunakan bahan baku lokal. Kehadiran mesin ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi produksi, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar, serta mengurangi ketergantungan terhadap pakan pabrikan.
Gambar 3. Penyerahan Mesin Pelet Ikan
Kegiatan diawali dengan penyerahan dan pengenalan mesin MAPAN kepada kelompok pembudidaya ikan Desa Kalanganyar. Pada kesempatan tersebut, tim pengabdian menjelaskan fungsi, spesifikasi, serta manfaat mesin sebagai solusi teknologi yang dapat digunakan secara berkelompok oleh masyarakat. Selain itu, peserta juga memperoleh edukasi mengenai pentingnya produksi pakan mandiri sebagai langkah strategis dalam meningkatkan daya saing usaha perikanan budidaya.
Gambar 4. Demonstrasi Mesin Pelet Ikan
Selanjutnya, tim pengabdian melaksanakan demonstrasi pembuatan pelet ikan mulai dari pencampuran bahan baku, pengaturan kadar kelembapan adonan hingga maksimal 10 persen, proses pencetakan menggunakan mesin MAPAN, sampai dengan pengeringan pelet agar memiliki kualitas yang baik dan tidak mudah hancur. Masyarakat turut berpartisipasi secara langsung dalam proses pengoperasian mesin sehingga memperoleh pengalaman praktis mengenai tata cara produksi pakan ikan yang benar dan efisien.
Tidak hanya memberikan pelatihan teknologi, tim pengabdian juga melakukan kunjungan ke area tambak bersama para pembudidaya untuk melihat secara langsung kondisi budidaya ikan di Desa Kalanganyar. Kegiatan ini menjadi sarana diskusi mengenai berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat, mulai dari tingginya biaya produksi, ketersediaan pakan, hingga peluang pengembangan budidaya berbasis teknologi tepat guna. Melalui observasi lapangan tersebut, tim memperoleh gambaran nyata mengenai kebutuhan masyarakat sehingga pengembangan teknologi yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.
Selama kegiatan berlangsung, antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi. Para pembudidaya aktif berdiskusi, mencoba mengoperasikan mesin, serta menyampaikan harapan agar teknologi MAPAN dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh kelompok pembudidaya. Mereka menilai bahwa keberadaan mesin pelet ikan menjadi salah satu kebutuhan penting yang selama ini belum dimiliki desa dan berpotensi memberikan dampak positif terhadap peningkatan produktivitas usaha budidaya.
Ketua tim pengabdian menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi nyata peran Program Studi S1 Geofisika Universitas Negeri Surabaya dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menyelesaikan permasalahan masyarakat. Meskipun berasal dari bidang geofisika, kontribusi program studi tidak hanya terbatas pada aspek kebumian, tetapi juga diwujudkan melalui inovasi teknologi tepat guna yang mendukung pemberdayaan masyarakat, khususnya di kawasan pesisir.
Gambar 5. Implementasi Nyata Peran Program Studi S1 Geofisika Universitas Negeri Surabaya
Program MAPAN juga mendukung pencapaian beberapa Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan efisiensi usaha dan pendapatan pembudidaya, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan teknologi tepat guna berupa mesin pembuat pelet ikan, serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan bahan baku lokal dan optimalisasi sumber daya untuk menghasilkan pakan ikan yang lebih ekonomis dan berkelanjutan.
Melalui Program MAPAN, Program Studi S1 Geofisika Universitas Negeri Surabaya berharap masyarakat Desa Kalanganyar mampu membangun sistem produksi pakan ikan yang mandiri, efisien, dan berkelanjutan. Program ini diharapkan tidak hanya mampu menekan biaya produksi budidaya, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir melalui pemanfaatan inovasi teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal. Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, inovasi MAPAN diharapkan menjadi model pemberdayaan yang dapat direplikasi pada kawasan perikanan budidaya lainnya di Indonesia.