Data Terbuka: Ketika Ilmu Menjadi Milik Bersama
Ada sebuah gagasan sederhana namun kuat dalam dunia sains modern, yaitu bahwa pengetahuan menjadi lebih berharga ketika dibagikan, bukan ketika disimpan sendiri. Dalam bidang geofisika, gagasan ini bahkan menjadi salah satu fondasi kemajuan. Data tentang bumi yang dikumpulkan oleh satu pihak dapat menjadi jauh lebih bermakna ketika dibuka dan dimanfaatkan oleh banyak pihak lain di seluruh dunia.
Alasan pertama yang mendukung gagasan ini adalah sifat data geofisika itu sendiri. Mengukur medan gravitasi, medan magnet, atau merekam citra satelit atas permukaan bumi membutuhkan biaya, peralatan, dan waktu yang tidak sedikit. Akan sangat boros jika setiap institusi harus mengulang pengukuran yang sama untuk wilayah yang sama. Dengan membuka data, satu upaya pengukuran dapat menghidupi ratusan penelitian yang berbeda.
Alasan kedua berkaitan dengan skala persoalan yang dihadapi. Bumi adalah satu sistem yang saling terhubung, dan banyak fenomenanya tidak mengenal batas negara. Perubahan medan magnet, pola pergerakan lempeng, atau dinamika atmosfer hanya dapat dipahami jika data dari berbagai belahan dunia disatukan. Basis data global yang terbuka memungkinkan gambaran menyeluruh ini terbentuk, sesuatu yang mustahil dicapai oleh satu pihak saja.
Alasan ketiga, dan mungkin yang paling membesarkan hati, adalah bahwa data terbuka menciptakan kesetaraan kesempatan. Sebuah institusi yang masih baru, atau yang memiliki sumber daya terbatas, tetap dapat menghasilkan penelitian bermutu dengan memanfaatkan data yang tersedia secara bebas. Peneliti muda di mana pun berada dapat mengakses kekayaan informasi yang sama dengan lembaga besar yang sudah mapan. Ilmu pengetahuan pun menjadi lebih demokratis.
Semangat inilah yang menghubungkan praktik data terbuka dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals, khususnya SDG 17 yaitu Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Tujuan ini menekankan bahwa persoalan besar hanya dapat diselesaikan melalui kerja sama dan berbagi sumber daya, termasuk pengetahuan. Data terbuka adalah salah satu wujud kemitraan yang paling nyata, karena ia mengundang siapa saja untuk ikut berkontribusi tanpa memandang besar kecilnya lembaga.
Tentu saja, keterbukaan data menuntut tanggung jawab. Agar data dari berbagai sumber dapat dipadukan, dibutuhkan standar format yang seragam, penjelasan yang jelas tentang cara pengambilan data, serta pencantuman sumber secara adil. Keterbukaan bukan berarti tanpa aturan, melainkan keterbukaan yang tertata sehingga data tetap dapat dipercaya dan digunakan dengan benar.
Bagi sebuah program studi yang sedang tumbuh, budaya data terbuka membuka peluang yang luar biasa. Tanpa harus memiliki peralatan yang mahal sejak awal, kegiatan penelitian dan pembelajaran tetap dapat berjalan dengan memanfaatkan data yang telah tersedia untuk publik. Ini adalah jalan masuk yang memungkinkan institusi baru ikut ambil bagian dalam percakapan ilmiah global.
Maka, ajakan dari tulisan ini sederhana. Mari memandang data bukan sebagai milik pribadi yang harus dijaga rapat, melainkan sebagai amanah bersama yang tumbuh nilainya ketika dibagikan. Ketika ilmu menjadi milik bersama, kemajuan pun menjadi lebih cepat dan lebih merata. Di situlah kemitraan sejati dalam sains menemukan bentuknya yang paling indah.
Tim Media Program Studi S1 Geofisika,
FMIPA, Universitas Negeri Surabaya